NAMA : GITYA MAAJID
NPM : 13216077
KELAS : 1EA11
JURUSAN : MANAJEMEN
DOSEN : RAMITA HAPSARI
Cinta yang dipendam sendirian memang menyakitkan. Orang yang kita cintai, orang yang kita dambakan, orang yang kita perhatikan, orang yang kita pikirkan setiap saat pun belum tentu berbalik memikirkan kita pula. Jatuh cinta memang indah, tapi tidak untuk orang yang sedang jatuh cinta sendirian. Rasa sakit itu tak sebanding dengan apa yang kita inginkan. Butuh hati yang kuat dan tulus untuk itu. Untuk mencintai seseorang dengan cara diam. Jika aku diizinkan untuk menolak rasa ini, maka akan aku lakukan. Cinta yang dirahasiakan memang pahit. Oleh sebab itu, wanita hanya butuh kepekaanmu wahai kaum lelaki.
******
“Hey! Kerjaan kok melamun melulu sih, kesambet baru tau rasa lo!” ucap Diyah yang mengagetkanku.
“Dasar pengganggu!” sahutku dengan nada emosi.
“Serius amat sih, emang lo lagi ngelamunin apa sih?” sambungnya.
“Ngelamunin es cincau” jawabku.
“Elo tuh ya, ditanya serius malah jawabnya ngelantur, jangan-jangan lagi ngelamunin si Nanang. Iya kaaaan?”
“Ga ko, dasar sok tau!” kataku.
“Udah deh, ngaku aja kenapa sih?” balasnya.
“Ngga Diyah temanku yang baik” bantahku.
“Enggak salah kan? Kan? Kan?”
“Tau ah, males ngomong sama lo!”
“Ciee... cie...” ledeknya. Dan aku hanya diam tak menggubrisnya lagi.
Sebenarnya memang benar apa yang dikatakan Diyah, aku sedang bingung “Kok bisa ya, aku suka sama Nanang. Padahal dia kan jutek dan cuek” gumamku dalam hati.
Nanang adalah teman sekelasku. Ia sebenarnya cowok yang baik plus pinter di antara temen cowokku lainnya. Tapi ada satu keburukan dia. Yaitu mubal (muka bantal). Abis kerjaannya tidur melulu. Kalau jam kosong tidur. Kalau jam istirahat tidur. Trus kalau jam pelajaran pasang muka ngantuk. Kan mubal BGT tuh orang.
Aku dan dia tuh musuh kalo lagi musim ulangan. Kita suka buat perjanjian, siapa yang nilainya paling rendah di antara aku dan dia, dialah yang harus traktir makan. Tapi saingannya sehat kok. Nilainya pun pasti gantian, kadang aku yang tinggi, kadang aku yang rendah, dan kadang pula samaan.
Dia itu terlalu sempurna untukku. Dan mungkin aku ga pantes buat dia.
“Jangan terlalu berharap, nanti kalo akhirnya dia nggak cinta sama kamu gimana?” bisikku dalam hati. Memang konyol.
“Teeet... Teeet... Teeet... !” bel tanda dimulainya jam pelajaran ketiga telah berbunyi. Semua siswa berhamburan memasuki ruang kelas masing-masing.
5 menit kemudian, tiba-tiba...
“Pengumuman, diberitahukan kepada ketua dan sekretaris masing-masing kelas untuk segera berkumpul di aula sekolah guna membahas kegiatan class meeting besok. Terimakasih” suara speaker sekolah menggema ke segala penjuru ruangan.
Aku pun dengan spontan berdiri.
“Diy, gimana nih? Gue disuruh rapat, terus Nanang dimana?” tanyaku pada Diyah.
“Mana gue tau. Sama gue aja kenapa? Hehe”
“Lo kan seksi bidang kebersihan. Masa lo sih? Lah ketua kelas suruh ngapain?” protesku.
“Yaudah... Ayo kita cari Pak Ketua” Diyah memberi solusi. Aku pun setuju.
Baru kami ingin mencari tiba-tiba dia datang
“Nah, panjang umur tuh anak. Tuh dia udah datang” Diyah memberi tahu.
“Nang, tadi lo denger pengumuman ga?” tanyaku padanya.
“Ya dengerlah. Makanya itu gue ke kelas buat nyari lo!” jawabnya.
“ciee... ” dengan tiba-tiba Diyah menyahut. Tapi aku tak menggubrisnya. Lalu aku pergi bersama Nanang menuju aula.
Setibanya di aula, aku dan Nanang duduk sebangku. Kalaupun bukan karena tugas mungkin itu tak akan pernah terjadi. Aku yang di sampingnya tak berani menatap wajahnya, apalagi menatap matanya. Aku tak sanggup.
“Nanang, sesungguhnya aku telah lama mengagumimu. Bahkan aku pun mulai mencintaimu.” ungkapku dalam hati.
Tak ada percakapan di antara kami berdua sejak satu jam yang lalu. Dan kini waktunya kembali ke kelas masing-masing. Sepertinya aku tak dianggapnya sama sekali. Atau mungkin dia benci padaku. Mungkin.
Sangat sakit rasanya aku. Saat kau diamkan aku. Hari ini mungkin hari yang buruk untukku.
******
“Gi, gimana tadi kencannya sama Nanang? Sukses?” Tanya Diyah padaku.
“Kencan apaan? Orang tadi gue cuma rapat doang ko sama dia” jawabku.
“Elo tuh gimana sih? Ada kesempatan emas malah ga lo gunain. Dasar!” sambungnya memakiku.
“Ah udahlah, semua akan indah pada waktunya” jawabku.
“Lo kenapa sih Gi? Abis ketemu pujaan hati ko makin murung sih?” Diyah bertanya.
“Gi, sebaiknya lo tuh cepet-cepet ungkapin perasaan lo itu ke Nanang deh. Keburu nanti lo naik kelas, pasti nanti kan pada pisah” ucapan Diyah menambah kegundahanku.
“Udahlah Diyah, gue perempuan, dan gue ga mau mulai duluan. Oke? Dan lo nggak usah ikut campur sama urusan pribadi gue. Gue tau kok apa yang terbaik buat gue” jawabku.
******
Lima hari kemudian…
“Hari ini mungkin adalah hari terakhir aku ketemu Nanang sebelum libur panjang” gumamku.
“Mungkin memang dia bukan untukku”
Setelah pembagian rapor nanti, apakah aku bisa bertemu lagi denganmu seperti hari-hari sebelumnya?” gumamku bertanya pada diriku sendiri.
“Huuuft...!!! Entahlah.”
Rapor selesai dibagikan. Pengumuman hari libur kenaikan kelas pun telah selesai. Kini waktunya untuk pulang. Dan seorang Gitya pun masih terduduk sendirian di dalam kelas, sedangkan Nanang? Dia berdiri mematung di balkon lantai dua.
******
Begitulah, cinta tapi gengsi. Tak ada yang mau memulai. Memang saling mencintai, tapi tak ada yang berani mengungkapkan. Dan akhirnya pupus. Terganti oleh cinta yang lain, begitu seterusnya. Itulah mengapa aku sampai sekarang masih sendiri. Karena kamu tak pernah mengungkapkan isi hatimu. Jangan salahkan takdir. Karena takdirmu ada di tanganmu sendiri. Apakah kau ingin sendiri atau bersamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar